Sawit Lesu Di
Petani sawit memulai Tahu Baru 2025 dengan lesu. Pergerakan negatif harga sawit menjadi penyebabnya. Setelah berhasil memberi sudut senyum sumringah yang cukup lama hingga Desember tahun lalu, akhir Desember harga sawit terkoreksi cukup tajam hingga kisaran Rp2.700/Kg dari harga sebelumnya Rp3.100/Kg. Banyak Petani menduga itu disebabkan tahun baru, sehingga pabrik mengurangi produksi karena masa liburan umum para karyawan.
Nyatanya, hingga tanggal 6 Januari 2025 harga TBS Sawit makin merosot hingga ke angka Rp 2.200/Kg di tingkat petani (wilayah Kabupaten Langkat).
Walau tetap dalam harga yang seyogyanya memuaskan, tapi trend negatif ini tentu membangun sentimen negatif bagi petani yang sudah mengecap nikmatya harga Rp 3 ribu/Kg. Realitas lapangan untuk 1 Ha luas kebun sawit petani umumnya mampu menghasilkan 800 - 1.500 Kg TBS sawit per 14 hari. Maka pada tingkat harga Rp 3 ribu/Kg petani sawit akan berpenghasilan setidaknya Rp 4 juta/bulan tiap 1 Ha luas kebun.
Bayangkan jika seorang petani memiliki setidaknya 5 Ha lahan saja, maka potensi penghasilan berada di angka puluhan juta per bulan. Sayangnya, semut selalu berhasil mengerubungi tumpukan gula. Begitupun dengan sawit, harga yang memuaskan dan hitungan yang menggiurkan tidak seindah kenyataan yang tersaji di lapangan.
Mulai dari faktor permanan harga oleh "toke" hingga para pemalas bernama "ninja sawit" yang kelihatannya lebih cerdas dari para Kapolsek, bahkan Kapolda Sumut, turut merampok nikmat yang seharusnya mengalir masuk le rekening para petani sawit.
Sedih itu kian menikam ketika Januari ini koreksi tajam harga sawit dirasa semakin menjadi. Semoga minggu depan harga kembali ke tingkat Rp 3 ribu/Kg, dan Tuhan memberi mukjijat pada para penegak hukum dengan kecerdasan yang meingkat tajam secara tiba-tiba sehingga sampah masyarakat yang namanya "ninja sawit" habis ditindak tanpa mampu lagi berkelit lompat dari satu pelepah ke pelepah sawit yang lain.
SEMOGA...