Sejarah Tapin Lau Bahing -- Bintang Meriah, Kecamatan Kutabuluh — Sorasirulo
Sorasirulo

Sejarah Tapin Lau Bahing -- Bintang Meriah, Kecamatan Kutabuluh

Budaya ·
Sejarah Tapin Lau Bahing -- Bintang Meriah, Kecamatan Kutabuluh
Oleh BAYAK PA MANGKOK SINULINGGA

Awalnya, warga Desa Bintang Meriah melakukan aktivitas mandi di Lau Kubang. Namun, tradisi ini berubah setelah ditemukannya mata air Lau Bahing. Menurut legenda setempat, kisah ini bermula dari seekor kerbau putih bernama Kerbo Jagat.

Setiap sore, kerbau tersebut selalu pulang dalam keadaan bersih tanpa lumpur.

Hal ini menimbulkan rasa penasaran di kalangan penduduk. Mereka lalu mengikuti jejaknya, hingga akhirnya menemukan sebuah mata air jernih di bawah pepohonan rindang. Di sekitar mata air itu tumbuh banyak tanaman bahing (sejenis kencur). Sejak saat itulah, tempat pemandian warga dipindahkan dari Lau Kubang ke Tapin Lau Bahing. Filosofi Pembagian Pancuran

Lau Bahing memiliki pembagian pancuran yang erat kaitannya dengan sistem kekerabatan Karo, yakni Siwah Sepulu Sa. Secara harfiah, siwah sepulu sa berarti sembilan (siwah) dan sebelas (sepulu sa) yang jumlahnya adalah dua puluh.

Jumlah pancuran di Tapin Lau Bahing merujuk kepada falsafah Belo Siwah Sepulu Sa (20). Komposisi siwah sepulu sa juga kita temukan pada jumlah daun sirih yang disajikan kepada keramat yang diselipkan pada sagak atau diletakkan di atas anjab m(altar). Karena itu dulu jumlah daun sirih seikat (sada kepiten ) adalah 20.

Itu pulalah makna lagu "bagi belo la ertangke, ikut bas kepiten tading bas beligan " karena orang menghitung jumlah daun sirih di dalam ikatan dengan menghitung tangkainya. Daun sirih yang tidak bertangkai tidak ikut dihitung.

Permandian wanita: 11 pancuran

Permandian pria: 9 pancuran, terdiri dari: 5 untuk sembuyak (Sinulingga Karo-karo) dan senina (Karo-karo Kaban), 2 untuk kalimbubu , dan 2 lainnya untuk anak beru . Makna Sosial dan Budaya

Dengan demikian, Lau Bahing bukan hanya sekadar sumber air dan tempat pemandian, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan, keteraturan, serta penghormatan terhadap adat dan falsafah hidup masyarakat Karo di Desa Bintang Meriah. https://www.youtube.com/watch?v=c1jqWUD9ncY&list=RDc1jqWUD9ncY&start_radio=1