Sinabung, Buah Naga Dan Lebah Madu -- Harmonisasi Alam
Payung, satu dari lebih dua ratus desa yang ada di Kabupaten Karo saat ini, eksis sebagai sentra penghasil buah naga kualitas ekspor terbaik dari Sumatera Utara. Pada bahasan lalu kita sudah melihat bagaimana geliat home industri petani dan pengerajin tembakau iris Desa Payung meraup rupiah. Kini, saya mengajak kita beralih melihat peluang bisnis tanaman buah naga bukan dari aspek buahnya, melainkan nektar bunganya.
Putra Gurki merupakan sosok putra lokal yang berhasil mengembangkan pertanian buah naga Desa Payung dan menginspirasi penduduk lokal untuk ikut berkecimpung dalam pertanian buah naga.
Sebelumnya komoditas pertanian Payung dari aspek tanaman keras tidak terfokus pada satu jenis. Ada kopi, kakao, alpukat dan salak. Namun, tidak pernah menjadi primadona bagi Masyarakat Payung. Sebelumnya ada tanaman jeruk manis, namun tumbang ditikam hama citcit (lalat buah) yang menyebabkan buah jeruk busuk tanpa sempat dipanen.
Ironisnya, serbuan produk obat-obatan pertanian hanya berhasil menguras kantong para petani dan meninggalkan petani dalam kubangan keterpurukan tanpa pembuktian janji manis para sales saat menawarkan produknya.
Dengan harga saat ini berkisar Rp12 ribu/ kg di tingkat penampung dan konsistensi buah yang stabil, tak heran buah naga memenangkan hati para petani Desa Payung.
Namun, pagi ini dari sebuah rumah ladang di salah satu sudut perladangan warga Desa Payung, saya disambut suara dengungan yang tidak asing di telinga. Penasaran membawa saya mencoba mencari asal suara dengungan itu dan mendapati benar itu adalah suara khas dari hewan lebah madu. Kebetulan rumah kebun buah naga tempat menginap malam ini sedang dalam fase berbunga.
Aktifitas alam ini memberi saya inspirasi atas sebuah potensi yang alam berkahkan kepada manusia. Teringat tempo dulu saya bersama Donny Alif Perdana, Ikhsan Gitsu Bre Pandia, Yusman Zendratö, dan beberapa kawan di Kabupaten Karo pernah beronani pikir untuk mengembangkan peluang usaha madu lebah dengan memanfaatkan hutan di sekitar Desa Kutarayat.
Sempat mendiskusikan soal mekanisme perijinan dengan abangda Benson Adi Saputra Kaban dan abangda Saurlin Siagian. Sayang, ternyata kami bukan konseptor apalagi eksekutor. Ternyata kami pikir kami pemikir dan onani pikir pun menjadi basi.
Kembali ke inspirasi dengungan lebah madu pagi hari di perladangan Desa Payung. Saya pikir (walau sepenuhnya saya sadar saya pikir saya adalah seorang pemikir) hal ini bukan lagi potensi, tapi sudah merupakan peluang bagi para petani buah naga. Konsistensi tanaman buah naga dalam berproses bunga - buah memberi siklus yang tetap bagi kelangsungan daur hidup lebah madu itu sendiri.
Jika demikian, sumber alami madu yang berasal dari nektar bunga, khususnya bunga dari tanaman buah-buahan yang memiliki citarasa manis tentu tersedia melimpah bagi para lebah.
Bukankah itu suatu berkah?
Bukan tidak mungkin ke depan Desa Payung dan beberapa desa di seputaran kaki Gunung Sinabung dapat menjadi sentra produksi buah naga dan madu alami berkualitas yang mampu menembus kebutuhan global.
Sampai di sini, peran pemerintah tentu tidak dapat diabaikan. Harus ada kepedulian nyata dari pemerintah untuk ikut andil memanfaatkan peluang ini agar dapat memberi sumbangan riil bagi pemasukan daerah dari sektor pajak.
Pemerintah harus aktif jika tidak mampu kreatif dalam merealisasikan pendapatan daerah, sebab selama ini pemerintah daerah tak ubahnya lintah yang cengengesan menghisap anggaran dari Pusat, tanpa pernah berpikir untuk mandiri menghidupi daerahnya sendiri.
Yah....
Semoga Pak Antonius Ginting yang baru terpilih sebagai Bupati tidak ikut kami "beronani".