Tak Kunjung Diperbaiki, Masyarakat Lelah Berharap -- Jalan Birubiru--penen
IMANUEL SITEPU | BIRU-BIRU (Karo Hilir) | Miris dan memilukan, belasan kilometer jalan yang seharusnya menjadi urat nadi perekonomian masyarakat, justru berubah menjadi jalur penderitaan. Hal tersebut kini dirasakan oleh ribuan warga pemakai jalan. Lebih setahun kondisi jalan yang menghubungkan Kecamatan Biru-biru hingga ke Desa Penen, tak kunjung diperbaiki.
Hal tersebut dialami warga dan pengguna jalan yang tinggal di Desa Sarilaba, Tembengen, Peria-ria, Penen dan Mardingding Julu (Kecamatan Biru-biru, Kabupaten Deli Serdang).
Masyarakat di sana sepertinya telah lelah berharap. Pasalnya, sampai saat ini kondisi jalan yang sudah rusak parah belum ada tanda-tanda akan diperbaiki. Artinya, secuil pun harapan untuk perbaikan infrastruktur jalan Itu seperti kata pepatah, jauh panggang dari api.
“Saat ini, badan jalan di sana sini terlihat lubang yang menganga. Bahkan ada dengan kedalaman hampir 1/2 meter. Sehingga sangat menyulitkan pengendara ketika melintas. Namun sampai saat ini tidak ada perhatian dari Pemerintah,” keluh seorang warga setempat kepada awak media ini.
Menurut warga, setiap hari, petani dan pedagang yang menggantungkan hidup dari hasil pertanian terpaksa menempuh risiko tinggi demi menjual hasil panen mereka. Bahkan jalan tersebut juga menjadi akses menuju sejumlah lokasi wisata Pemandian Air Panas seperti Goa Ergendang, Lau Sigembura, Pemandian Air Panas Penen, Pemandian Tiga Rasa, Lau Sibayak dan Wisata alam Pemandian Dua Rasa.
Ini membuat perekonomian masyarakat saat ini benar-benar terpuruk. Janji demi janji pembangunan telah diucapkan oleh instansi terkait, namun kenyataannya, perbaikan tak kunjung datang. Masyarakat pun berharap agar Bupati Deli Serdang (dr. Asriludin Tambunan) membuka mata hati dan hati nurani terhadap penderitaan rakyatnya.
Akibat tak kunjung diperbaiki, beberapa yang prihatin melihat kondisi jalan mulai menggalang petisi dan mengunggah kondisi jalan tersebut ke media sosial dengan harapan mendapatkan perhatian lebih luas. Namun, hingga kini, belum ada tanggapan konkret dari pihak terkait.
Sampai kapan masyarakat harus terus menanggung beban ini? Ataukah keadilan pembangunan hanya menjadi impian semata? Pertanyaan ini, dan jawabannya sampai hari ini masih menggantung. Masyarakat sepertinya hanya terus menanti keajaiban.