Tanggungjawab Medis Kata Tukang Pijatku (2) -- Bagaimana Tanggungjawab — Sorasirulo
Sorasirulo

Tanggungjawab Medis Kata Tukang Pijatku (2) -- Bagaimana Tanggungjawab

Budaya ·
Tanggungjawab Medis Kata Tukang Pijatku (2) -- Bagaimana Tanggungjawab
Oleh Juara R. Ginting

Patung Guru Patimpus sempat menjijikan beberapa tahun silam karena banyaknya sampah yang dibuang ke sana. Seseorang mengirimkan fotonya ke media sosial dan mendapat reaksi dari banyak orang Karo, dari seluruh penjuru negeri dan juga luar negeri.

Saya adalah salah seorang diantaranya yang bereaksi yang pada saat itu bisa dikatakan agak berperan seperti influencer di kalangan Karo.

Singkat cerita, sekelompok pemuda dari Bandung dan Medan sepakat membersihkan patung itu dari sampah dan sekalian mengadakan upacara menghidupkan lilin di sana pada malam harinya. Atas bantuan Ita Apulina Tarigan, saya merancang dari Belanda sebuah tarian berjudul Mumbang Medan untuk ditampilkan di sana malam itu.

Dua mahasiswi Antropologi dan satu putri Jawa menarikan Mumbang Medan berpasangan dengan 3 pemuda Karo yang badannya ditatoo oleh pelukis dari Bali yang sekarang sudah terkenal (Eddy Ginting).

Dari tahun ke tahun saya terus menyemangati para pemuda Karo untuk mengingat patung Guru Patimpus hingga belakangan tidak ada lagi yang mengingat peran saya sejak awal. Dan, sayapun rela dilupakan dalam hal ini asal saja para pemuda Karo terus mengingat patung Guru Patimpus.

Kisah itu saya tampilkan untuk menunjukan penghargaan saya terhadap keputusan resmi DPRD dan Pemko Medan bahwa Guru Patimpus Sembiring Pelawi adalah pendiri Kota Medan. Saya setuju Guru Patimpus sebagai SIMBOL keberadaan Suku Karo di Medan.

Peta Deli yang dibuat oleh Halowijn menunjukan Deli terdiri dari 4 Kejuruan Melayu dan 4 Urung Karo. Keempat Kejuruan Melayu itu nantinya dikenal sebagai Deli Hilir, dan keempat Urung Karo itu Deli Hulu. Pusat Kota Medan, Lapangan Merdeka, berada di antara Deli Hilir dan Deli Hulu.

Nama Medan berasal dari nama sebuah kampung dimana Pusat Kota Medan itu dibangun oleh Belanda yang di dalam Laporan John Anderson (1826) disebut Meidan. Nenek saya dari Berastepu dan Lauriman selalu menyebut Meidan ketika mereka mengunjungi kami di Medan. Menurut SK DPRD Medan, Guru Patimpus adalah pendiri Kota Medan.

Dari penelitian saya sendiri, saya percaya Meidan adalah sebuah kampung Karo karena masuk wilayah Sepulu Dua Kuta Lau Cih (Bukan 12 Kuta Hamparan Perak). Meski 12 Kuta Lau Cih adalah urungnya Karo-karo Purba, Meidan bisa saja dari merga lain yang berhubungan sebagai Anak Beru dengan Purba seperti halnya kampung-kampung di sekitar Sibolangit dan Sembahe kebanyakan didirikan oleh merga Gurusinga yang berhubungan Senina dengan Purba Lau Cih.

Selanjutnya saya tidak mau lagi berkomentar mengenai Guru Patimpus Sembiring Pelawi karena kisah-kisah yang mengemuka saat ini tentang dirinya belum bisa saya pertanggungjawabkan secara ilmiah.

Atas dasar tanggunjawab ilmiah saya tidak banyak berbicara mengenai pendiri Kota Medan ini.

BERSAMBUNG https://www.youtube.com/watch?v=7uBCwBQ6U4c&t=25s