Tanggungjawab Medis Kata Tukang Pijatku (3) -- Bagaimana Tanggungjawab — Sorasirulo
Sorasirulo

Tanggungjawab Medis Kata Tukang Pijatku (3) -- Bagaimana Tanggungjawab

Budaya ·
Tanggungjawab Medis Kata Tukang Pijatku (3) -- Bagaimana Tanggungjawab
Oleh Juara R. Ginting

Seseorang mengirim ke saya (lewat WA) sebuah artikel tentang Kerajaan Haru yang argumen utamanya Haru adalah kerajaan Karo. Artikel itu ditulis oleh seorang Karo. Sipengirim menanyakan apa pendapat saya tentang artikel itu. Saya tidak menjawab sama sekali meskipun jelas dia tahu saya telah menerima dan membaca pertanyaannya di WA itu. Saya tidak menjawab karena saya sama sekali tidak ingin menanggapi tulisan apa saja mengenai Kerajaan Haru apalagi ditulis oleh sesama Karo.

Alasan utama saya tidak menanggapinya bukan karena saya tidak tahu apa-apa mengenai Kerajaan Haru, tapi melainkan tanggunjawab ilmiah.

Tiga desertasi mengenai Kerajaan Haru yang kebetulan pula ketiganya ditulis oleh arkeolog (1. John Micsic, 2. Edward E. McKinnon, 3. Daniel Peret) telah lama saya baca. Ketiganya mengindikasikan hubungan yang sangat kuat antara Haru dan Karo. Akan tapi, tidak ada satupun diantara ketiganya menyatakan Haru adalah Karo atau sebuah kerajaan yang bertransformasi menjadi Suku Karo. Demikian juga artikel-artikel mereka, termasuk Tengku Lukman Sinar yang pernah membantu Micsic di lapangan.

Memang secara lisan Tengku Lukman Sinar pernah mengatakan di sebuah seminar kalau Benteng Putri Hijau itu adalah Karo. Tapi, itu bukan berarti Haru adalah juga Karo dan dia tidak cukup mendetail menjelaskan Benteng Putri Hijau adalah Karo.

Asumsi bahwa Haru adalah Karo berawal dari tulisan P. Tamboen (1952) yang kemudian sangat serius dijabarkan oleh Brahma Putro (1981) yang nama aslinya K.S. Brahmana dalam bukunya Karo Dari Jaman ke Jaman. Brahma Putro yang saat itu Direktur SMA Khalsa Medan dan berasal pula dari Seberaya ikut membantu Micsic dalam penelitiannya.

Satu lagi yang ikut membantu Micsic adalah Drs. Terbit Sembiring yang pada saat itu pegawai Kantor Gubernur Sumatera Utara dan juga asal Seberaya. Dia alumni Sosiologi UGM dan dalam daftar 20 sastrawan nasional asal Sumut yang dibuat oleh Prof. Ahmad Samin Siregar (pernah Dekan Fakultas Sastra USU), termasuk di dalamnya nama Terbit Sembiring atas dasar puisi-puisinya yang diterbitkan oleh sebuah majalah sastra tingkat nasional terbitan Jokyakarta.

Begitupun, saya tetap sampai sekarang belum berani ikut-ikutan menyatakan Haru adalah kerajaan Karo atau reruntuhan Haru bertransformasi menjadi Suku Karo.

Sama halnya dengan keraguan saya terhadap asumsi bahwa Haru kalah perang dari Aceh dengan panglima perangnya Gocah Pahlawan yang kemudian menjadi Sultan Deli pertama. Pernah saya baca sebuah tulisan yang mengatakan Aceh menyerang dengan pasukan yang menunggang sekian ribu gajah. Mana bukti empirisnya kejadian itu?

Tulisan itu mengatakan itu tercatat di dalam laporan Itching. Mana dia laporanya itu? Mengapa kita tidak pernah melihatnya?

Demikian juga claim Haru adalah Kerajaan Melayu dengan raja-rajanya bernama Arab. Juga dikatakan tertulis di dalam sebuah laporan ke Raja Tiongkok. Mana laporan itu?

Kalau Sultan Deli adalah panglima perang Aceh yang menaklukan Haru, mengapa dia harus mengawini putri Sunggal untuk menjadi AnakBeru Tua Sunggal dan dianggap mempersatukan 4 kerajaan pribumi (Serbenaman, 12 Kuta Lau Cih, Sukapiring, Senembah). Pemenang perang seharusnya berkuasa terhadap pribumi apalagi orang-orang Karo diasumsikan adalah transformasi dari Kerajaan Haru.

Mengapa Datuk Sunggal malakukan perlawanan terhadap Belanda ketika perkebunan-perkebunan asing diperluas ke Deli Hulu? Perlawanan itu pula yang mendorong Residen Siak memanggil Halowijn dan C.J. Westenberg melakukan investigasi terhadap Deli dan keberadaan orang-orang Karo di Deli Hulu.

Singkat cerita, pengaburan sejarah mulai terjadi sejak kekuasaan kolonialisme dimana Sultan Deli memanipulasi sejarah, termasuk penaklukan Aceh yang mitologis menjadi seolah fakta sejarah.

Di bagian berikutnya saya akan menceritakan bagaimana perjuangan saya membela Benteng Putri Hijau tanpa sekalipun mengatakan itu milik Karo ataupun mengklaim Haru adalah Kerajaan Karo.

BERSAMBUNG

Keterangan foto:

Ketika saya (berjalan di depan) bersama seorang mahasiswa Antropologi (berjalan di belakang) melakukan survey di Benteng Putri Hijau.