Tanggungjawab Medis Kata Tukang Pijatku (4) (penutup) -- Bagaimana
Ketika beberapa harian cetak Medan memberitakan adanya pengerusakan Benteng Putri Hijau oleh pengembang sebuah kompleks perumahan, saya bersama beberapa mahasiswa Antropologi USU melakukan peninjauan ke sana. Betul, sebagian gundukan tanah yang diasumsikan merupakan fundasi benteng sebuah pemukiman yang dipimpin oleh Putri Hijau telah diratakn oleh pengembang dengan buldozer.
Dari dataran bekas buldozer saya temukan banyak sekali serpihan tembikar. Saya mengutipi serpihan tembikar itu dan membawanya ke rumah.
Beberapa tahun sebelumnya saya melakukan hal yang sama di Hamparan Perak. Saat itu, saya ikut tim penelitian mengenai ekonomi keluarga para nelayan. Suatu hari, kami berjalan melewati perladangan di Hamparan Perak. Mata saya terbentur pada beberapa serpihan tembikar. Lalu, saya kumpulin.
Serpihan tembikar di Benteng Putri Hijau itu sangat identik dengan serpihan tembikar di Hamparan Perak. Beberapa arkeolog mengatakan tembikar-tembikar itu berasal dari Burma dan China. Mereka juga menyebut penemuan yang sama di Tiga Belawan (Seberaya, Dataran Tinggi Karo).
Alkisah yang dikenal orang-orang Karo dan Melayu, dikatakan Putri Hijau terlahir bersama saudaranya Naga dan Mariam di sebuah gua di Seberaya. Setelah dewasa, Putri Hijau kawin dengan pengulu Seberaya Karosekali sementara dia sendiri konon beru Meliala. Suatu waktu mereka harus bercerai kawin setelah warga Seberaya marah karena Naga membutuhkan banyak ternak warga untuk dimakan dagingnya.
Dengan bersedih hati, Putri Hijau bersama kedua saudaranya meninggalkan Seberaya menuju Delitua. Dia bermukim di tempat yang sekarang dikenal dengan Benteng Putri Hijau.
Itu adalah mitos yang perlu dikaji dengan, seperti saran Levi-Strauss, the science of mythology . Bukan langsung menjadikannya sebagai fakta sejarah.
Khalayak umum bisa saja membuat tafsir liar dengan menjadikan kisah Putri Hijau sebagai rujukan sejarah. Misalnya, banyak warga menemukan di sawah atau kolam ikan mereka dirham (mata uang Turki terbuat dari emas) yang mereka tafsirkan bukti kebenaran kisah Putri Hijau yang mengatakan Aceh menyerang Pasukan Putri Hijau dengan mariam berpeluru dirham .
Atas "serangan dirham " itu, prajurit-prajurit Haru sibuk mengumpulkan uang logam itu sehingga memudahkan Pasukan Aceh menerobos Benteng Putri Hijau.
Biarkanlah khalayak umum membuat tafsir, tapi hendaknya sivitas akademis menjaga etika ilmiah yang bisa menafsir atau menganalisis berdasarkan prosedur ilmiah. Jangan mudah termakan arus di tengah-tengah masyarakat. https://www.youtube.com/watch?v=BY0_lvik7wA
Saya pribadi menduga dan berharap bahwa Benteng Putri Hijau adalah milik Karo. Tapi, dugaan dan harapan tidaklah sama dengan kesimpulan meskipun dugaan dan harapan saya itu juga berdasarkan data-data dan fakta-fakta ilmiah.
Tanpa pernah sekalipun menyebut Benteng Putri Hijau adalah Karo, saya menggerakan banyak aksi untuk melindungi situs sejarah itu dari perusakan-perusakan. Pertama, SORA SIRULO mewawancarai Balai Arkeologi Aceh-Sumut mengenai Benteng Putri Hijau dan memberitakannya melalui Tabloid SORA SIRULO.
Selanjutnya, saya menggerakan mahasiswa Antropologi USU untuk melakukan aksi damai di Jl. Universitas, Kampus USU, Medan. Para wartawan saling panggil untuk meliput, termasuk Radio Elsinta, sehingga beritanya nasional. Para mahasiswa yang dipimpin oleh Maja Barus, bernyanyi diiringi gitar sambil mengacungkan beberapa poster.
Tidak ada sekalipun tersebut Benteng Putri Putri Hijau adalah Karo baik dalam ucapan maupun poster-poster. Thema utama mereka adalah "Selamatkan Benteng Putri Hijau", "Benteng Putri Hijau Adalah Mata Rantai Sejarah Nusantara", dan lain-lain.
Aksi itu memang didatangi dan diamati oleh Satpam USU, tapi saya yakin mereka tidak akan melarangnya meski kami tidak meminta ijin sebelumnya. Soalnya, Komandan Satpam USU saat itu adalah Bang Wara Sinuhaji. Begitulah kali-kali saya saat itu dalam menggerakan aksi mahasiswa sementara saya hanya menonton dan sesekali membuat foto.
Tidak berapa lama kemudian kami mengadakan aksi lagi. Kali ini, kami langsung mengadakan aksi ke Benteng Putri Hijau yang telah dibuldozer oleh pengembang. Masih dipimpin oleh Maja Barus. Di sana mahasiswa mengadakan perenungan, bernyanyi diringi gitar, dan membacakan beberapa puisi yang semuanya berthema keprihatinan terhadap Benteng Putri Hijau.
Kami mengontak hampir semua media cetak, tapi hanya seorang wartawan Harian Kompas yang datang, Mbak Wismi. Dia pun memberitakannya ke Kompas esok harinya dengan foto yang bagus sekali dan berita yang panjang.
Aksi ke tiga adalah Malam Prihatin Putri Hijau di pelataran STIK Neumann, Medan. Siapa tahu hujan bisa turun sewaktu-waktu, kami menyewa tenda dan kursi untuk tamu undangan. Diantara tamu undangan yang masih saya ingat adalah senina Taufan Agung Ginting yang juga turut menyumbang dana.
Kami juga mendapat bantuan dana untuk mendatangkan seorang staf Balai Arkeologi Aceh-Sumut dari Banda Aceh dengan pesawat terbang. Sangat berterimakasih kepada Prima Tarigan yang menyumbangkan sound system secara gratis dan STIK Neumann yang memberi tempat kepada kami.
Demikian juga para pemusik (Fakta Ginting) dan penyanyi pop papan atas Karo seperti Anta Prima Ginting dan beberapa lainnya yang bersedia tampil tanpa bayaran.
Acara seni ditambah dengan Senandung Ibu Putri Hijau (saat dia hamil) ciptaan saya yang dinyanyikan oleh Averiana Barus diiringi musik tradisional Sanggar Seni Sirulo pimpinan Ita Apulina Tarigan.
Acara puncaknya adalah Talk Show yang menghadirkan 2 pakar dengan host Pimred Tabloid SORA SIRULO (Ita Apulina Tarigan). Kedua pakar itu adalah dari Balai Arkeologi Aceh-Sumut dan Ketua Jurusan Anbtropologi USU Dr. Firkarwin Zuska.
Di Belanda, setelah ada permintaan pertunjukan seni Karo di Museum Etnologi Leiden, saya merancang pementasan musik dan tari berjudul The Green Pincess yang berthemakan keprihatinan terhadap Benteng Putri Hijau.
Bagian Penutup ini menyimpulkan bagaimana saya menduga dan berharap Kerajaan Haru adalah Karo, tapi demi tanggungjawab ilmiah atau Etika Akademik, saya belum pernah menyatakan bahwa Kerajaan Haru maupun Benteng Putri Hijau adalah Karo.
Sampai saat ini, belum ada suku manapun juga bisa mengklaim Haru adalah kerajaan mereka. Aksi-aksi yang saya gerakkan bersama Ita Apulina Tarigan didasarkan pada sebuah kepastian ilmiah bahwa Benteng Putri Hijau adalah salah satu mata rantai Sejarah Nusantara.
Aksi-aksi kami adalah untuk mengingatkan khalayak ramai terhadap peninggalan sejarah ini mengajak orang-orang Karo merasa memiliki mata rantai Sejarah Nusantara ini sehingga khalayak ramai melihat orang-orang Karo sangat terhubung secara bathin dengannya.
Hubungan bathin Karo dengan Kerajaan Haru terlihat dengan adanya tempat-tempat keramat sepanjang rute yang dilalui Putri Hijau dari Seberaya ke Delitua dan nantinya dari Delitua ke Pasir Putih (pulau kecil di seberang Pelabuhan Belawan) saat dia dilarikan bala tentara Aceh lewat lautan. Para dukun Karo rutin melakukan upacara di tempat-tempat keramat itu sampai sekarang.
Foto kaos dilukis oleh seorang pelukis Belanda yang terkenal Marjolijn Groustra. https://www.youtube.com/watch?v=5r0qkpPG4Es&t=897s